merenungi kehidupan

Siapakah Orang Yang Paling Berjasa ?

merenungi kehidupan

Jika anda disuruh menyebutkan orang yang paling berjasa dalam hidup anda siapakah yang akan anda sebutkan ?

Teman dekat, saudara, tetangga, atau ….. yang lainnya, siapapun dia pasti ada alasan yang sangat mendalam untuk anda sebutkan. Saya sendiri ketika menjawab pertanyaan ini butuh banyak pertimbangan, pertimbangan biologis maupun psikologis, selain itu ada juga pertimbangan syariat sebagai keyakinan yang saya iman sekarang.

Ada pepatah yang menyebutkan teman bisa menjadi saudara, saudara bisa menjadi musuh, bahkan dalam sebuah ayat kita diingatkan tentang keturunan bahkan orang terdekat kita bisa menjadi musuh ( dengan pendekatan rasa akherat yaitu kembali kepada suatu tempat yang tidak ada satupun orang yang mengingini neraka.. )

terus siapa orang yang paling berjasa dalam hidupmu?

Dia bukan orang yang selalu mengabulkan permintaanku, bukan yang mencukupi kebutuhanku, atau yang selalu ada ketika aku kesulitan, yang bisa diajak bicara dan berbagi kesedihan dan kebahagiaan, semua itu bukan secara fisik, tetapi saya merasa secara batin keberadaanya

Saya teringat sebuah hadist ketika Rosulullah ditanya kepada siapakah kita harus berbakti pertama kali ?

Ya setidaknya ini menjadi landasan keimanan saya untuk menjawab pertanyaan ini

Siapakah dia … ya dia adalah ibumu …

Sebenarnya bukan hanya landasan keimanan saja yang melandasi saya, banyak alasan sehingga kita tidak bisa dipisahkan oleh siapapun, walaupun tanpa pendidikan yang tinggi dan kekayaan yang diwariskan

emak sering saya menyebutnya telah mengantarkanku disaat saya belum mengenal dunia ini menuju berbagai pintu yang saya harus memilihnya dan menjalaninya

bernostalgia dan menceritakan jasanya sepertinya menjadikan sebuah alasan saya agar tidak melupakan kebaikan kebaikan yang sudah saya terima.

Ketika saya masih bayi dialah yang memberikan saya sesuap bahkan ribuan suap karbohidrat dan vitamin yang mendorong tubuh ini berkembang,

Saya masih ingat makanan kesukaan saya dan saya mengenal waktu itu bubur sum-sum yang selalu berjualan dipagi hari, dengan mulut belepotan saya menyantapnya sebagai sarapan ketika sudah mulai bisa makan sendiri, waktu itu saya tidak tau makanan bergizi atau tidak bersih atau tidak, ketika saya haus maka yang berupa cairan akan saya minum, pernah satu botol minyak goreng habis karena kehausan

Susu saya waktu itu susu bubuk tak bermerek, yang penting minum susu ketika teman teman yang lain bermain dengan mainan yang mahal, saya cukup membaca buku dan sesekali dibelikan majalah kesukaan ku waktu itu

Ketika saya sudah mulai sekolah TK dialah yang mengajarkan disiplin bahkan sampai SMK saya selalu berangkat sekolah ketika pintuu gerbang masih tertutup

Ketika pulang sekolah selalu ada jajan ( saya tidak tahu apakah orang tua punya uang atau tidak) tetapi selalu ada makanan jajanan pasar kesukaanku. karena emaku tau saya tidak pernah jajan di sekolah (karena uang saku cukup untuk transpot saja)

Saat aku kerja tidak banyak yang aku berikan kepadanya sebagai balas jasanya selama ini, bahkan keduanya merelakan uang saya untuk kuliah, karena memang saya sangat kepingin untuk belajar waktu itu

Bahkan ketika sampai saatnya aku harus menentukan jodohnya, dialah yang menjadi pertimbangan pertama untuk memutuskan keputusan besarku itu

Berbagai doa sudah keluar dari mulutnya yang Insya Allah sampai saat ini saya rasakan, saya tidak pernah meragukan ketulusannya,

Mungkin sedikit alasan biologis dan psikologis yang jauh dari kenyataan dan banyak jasa yang saya ingat dari beliau, semoga doanya terus mengalir kepada kami …walaupum dengan harta kekayaan seluruhnya tak akan bisa membalas kebaikannya

yang merindukan mu emak ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *