nasehat tersirat dari kakek

Nasehat Tersirat dari Seorang Kakek

Jum’at pekan ini seperti biasanya saya berjalan selangkah demi selangkah menuju masjid terdekat untuk menjalankan salah satu ritual pekanan yang sangat umum bagi kaum adam “jum’atan” ya begitulah biasa kita menyebutnya

nasehat tersirat dari kakek

nasehat tersirat dari kakek

dengan bantuan dua buah tongkat, sesuai pesan dokter kaki sebelah kiri ini belum boleh untuk menapak karena masih belum pulih 100 persen, dalam pikiranku harus bekerja keras untuk melatih kesabaran menunggu waktu agar bisa beraktifitas sedia kala, dalam pikiran dalamku harus berkeluh untuk bersyukur atas rasa ini.

Sesampainya di masjid, langkah ini menuntun menuju salah satu ujung masjid sebelah kanan yang masih kosong, tidak seperti dua pekan yang lalu yang lebih memilih ujung sebelah kiri karena lebih dekat dengan pintu keluar. Selain bisa membantu pegangan saat berdiri ujung masjid juga lebih nyaman buat kaki ini untuk selonjoran dari pada menekuk , karena bekas luka itu memang persis dibawah tulang keras.

Sesaat setelah sholat sunah sambil menunggu sang khotib menuju ke mimbar, seperti biasanya kulihat ke sekitar masih belum banyak jamaah yang datang mengisi sudut sudut masjid yang begitu luas, setelah beberapa bulan lalu dilakukan renovasi

Seorang kakek tua dengan baju sedikit berlubang di lengan kanannya sholat sunah dan duduk persis disebelahku, “baru jatuh ta nak ” begitu tanya beliau sambil menatap wajah ini dari samping. Ku jelaskan kronologi sesingkat mungkin. tiba tiba … sang kakek ini membuat saya luluh hati dan menerobos meghancurkan pikiran, keluh hati dan sekat sekat yang ada

sambil menunjukan sebuah cedera yang sama dialaminya, tepatnya di tangan kanan, diangkat sedikit dan ditunjukan kepada wajah ini, patahan tulang itu dibiarkan tidak dioperasi dan diobati, sangat jelas dibalik baju lusuhnya yang tutupi warna cokelat menonjol mirip siku di atas lengan, patahan itu dibiarkan……

“Ora due duit .. ” lirih suara itu terdengar membentak keheninganku …….

Ya Allah sambil menghilangkan berbagai pikiran ini saya tanyakan alamat bapak itu, yang ternyata tinggal mengikuti anaknya di ujung perumahan tempat tinggal kami, Beliau berasal dari Tuban, biasanya bekerja ngecat rumah kalau ada yang menyuruh

belum sempat menanyakan namanya , adzan sudah berkumandang kami terdiam dalam nasehat yang terucap dari sang khotib

“Semoga diusia senjamu engkau bisa menikmati ibadah dan dekat dengan Pencipta Alam Semesta ini”

Sesudah Sholat kami tidak sempat berdialog lagi karena arah pulang berlawanan, dalam langkah ini coba kuungkit lagi berapa kadar kesyukuran, berapa kadar kesabaran, ternyata masih jauh dari salah satu makhluk Nya yang ditakdirkan tadi duduk bersebelahan di masjid Mu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *