Dinamika Seni Pesisir Gresik

Dinamika Seni Pesisir Gresik

kota gresik

kota gresik

Naskah ini disampaikan dalam acara SARASEHAN FESTIVAL KESENIAN PESISIR UTARA (FKPU) 2012, Tanggal 9 Maret 2012 di Gresik :Latar Belakang Gresik
Sejak zaman kerajaan Majapahit, keberadaan kota Gresik sudah disebut-sebut sebagai salah satu prototype kota tua. Peranannya sebagai kota dagang mulai berkembang sejak pertengahan abad ke-14, seirama dengan dinamika kota-kota dagang lainnya di Nusantara yang juga terkait dalam jaringan perdagangan dunia. Kawasan nusantara menjadi kawasan paling timur yang dijadikan titik simpul perdagangan internasional terutama dari bangsa-bangsa Eropa dan Asia Tengah. Dari Maluku, jalur perdagangan melintasi selat Flores, Laut Jawa, Selat Malaka, Teluk Benggala, Pantai Coromandel dan Malabar di India, Gujarat, Persia serta diteruskan sampai ke Eropa dengan melewati simpul-simpul perdagangan lainnya. Pada jalur inilah kota Gresik menjadi salah satu simpul perdagangan yang sangat penting. Tome Pires, musafir Portugis yang mengunjungi kota ini pada abad ke-16 menyaksikan bahwa transaksi perdagangan sudah ramai dilakukan. Kapal-kapal yang singgah berasal dari Gujarat, Siam dan Cina. Disamping itu juga kapal-kapal dari dan Banda yang tampak ramai. Kesaksian Tome Pires yang dikutip oleh H. De Graaff the Piqeaud, Kerajaan Islam di Jawa.
Lahirnya Gresik sebagai kota dagang dunia dan kota pelabuhan disebabkan oleh posisi Gresik yang strategis. Sebagai kota pelabuhan, Gresik sangat didukung oleh posisi strategis yang secara geografis berada di pantai utara Laut Jawa yang menjadi jalur pelayaran utama perdagangan Nusantara dan internasional. Kondisi geologi dan struktur tanah Pantai Gresik yang sebagian besar berbatu-batu menjamin tidak akan ada proses pendangkalan pantai, sehingga memudahkan kapal berlabuh, kondisi ini tidak didapati pada pantai lain yang letaknya berdekatan dengan Kota Gresik. Letak geografis kota Gresik yang diapit oleh dua muara sungai besar, yaitu Bengawan Solo di sisi barat Kota Gresik dan sungai Brantas di sisi timur, menjadikan Kota Gresik sebagai kota pelabuhan yang strategis. Kota Gresik sekaligus sebagai simpul (outlet) sistem perdagangan regional yang menghubungkan daerah pedalaman Pulau Jawa dengan luar Jawa. Sungai Bengawan Solo dipergunakan sebagai jalur transportasi sungai yang membawa barang-barang hasil produksi dari Kota Solo, salah satu jantung kota di Jawa dan berada di pedalaman Jawa Tengah, hingga Kota Gresik (Tim Penyusun buku sejarah Kota Gresik).
Pada sisi Timur, yakni anak sungai Brantas, dipergunakan untuk jalur transportasi sungai yang menghubungkan daerah-daerah pedalaman Jawa Timur dengan Kota Gresik. Kedua sungai itu merupakan lalulintas aliran komoditi hasil pertanian yang tidak dapat dihasilkan di wilayah Gresik, seperti beras yang merupakan komoditi yang bisa ditukarkan dengan komoditi lain dan tidak mungkin dihasilkan daerah pedalaman. Keramik, emas, cengkeh dan pala adalah contoh komoditi yang tidak mungkin dihasilkan di tanah Jawa, sedangkan kebutuhan akan komoditi ini di daerah pedalaman Jawa sangat kuat. Dari sini kemudian lahirlah proses pertukaran komoditi. Barang-barang pedalaman mengalir melalui jalur transportasi sungai ke daerah pantai yang selanjutnya akan ditukarkan dengan komoditi-komoditi dari luar Jawa. Kondisi pantai di Gresik seperti diterangkan sebelumnya, memungkinkan bertambahnya kapal-kapal berukuran relative besar sehingga dapat menfasilitasi tumbuhnya Gresik sebagai tempat pertukaran antar komoditi dan secara perlahan menjadikan Gresik tumbuh menjadi kota pelabuhan dan kota perdagangan regional, bahkan sebagai suatu pusat kekuasaan (Kenneth R. Hall, Maritime Trade and State Development, Sidney : Wellington Allen and Unwin, 1985, hlm. 132)
Sebagian wilayah Gresik terdiri dari tanah tandus, gersang dan berbukit-bukit kapur keras sehingga tidak memungkinkan penduduk Gresik menjadi masyarakat agraris. Pertanian padi serta sayur-mayur yang membutuhkan tanah cukup berair tidak akan tumbuh di Gresik. Petani-petani lading bercocoktanam jenis tanaman kering antara lain seperti buah mangga, jambu dan pisang yang bisa tumbuh di Gresik. Hal inilah yang mendorong penduduk Gresik hidup dari mata pencaharian sebagai pengrajin dan pedagang. Mata pencaharian masyarakat sebagian besar adalah pengrajin permata, pengrajin kuningan, pengrajin kulit (sandal, sepatu, terompah, sabuk, tas), tukang ukir, pandai besi, tukang peti, tukang jahit pakaian, kopiah dan sebagian kecil nelayan.Pada awal penyebaran agama Islam, dimana Gresik merupakan pusat penyebarannya di Pulau Jawa bahkan sampai keluar Jawa diantaranya Maluku dan sekitarnya. Penyebaran agama Islam mulai abad ke XIV terbukti dengan adanya Prasasti “Batu Nisan” Leran, makam Fatimah binti Maimun pada abad ke XI dan semakin diperkuat dengan adanya makam Maulana Malik Ibrahim yang bertarich 822 Hijriah (1419 AD).
Ciri utama masyarakat Gresik, yaitu semangat Islam,ajaran Islam sudah mendara-daging sehingga merupakan jati diri masyarakat Gresik yang sukar dihapus. Hal inilah yang mewarnai pandangan serta sikap hidup sehari-hari. Terutama dalam ungkapan-ungkapan rasa batin seperti dalam olah kesenian masyarakat, nafas ke-Islaman terasa menguasai setiap karya kesenian tradisional Gresik.
Banyak kesenian tradisional yang diselenggarakan berkaitan dengan berbagai kegiatan upacara, misalnya upacara tingkeban, lamaran.perkawinan, sunatan dan lain-lainya. Tema tembang yang dimacapatkan disesuaikan dengan hajat upacaranya, tanpa meninggalkan nafas Islamnya.
Kekhawatiran akan kemungkinan punahnya atau tenggelamnya kebudayaan tradisional daerah Gresik, maka perlu mengumpulkan kembali kebudayaan daerah baik yang masih ada maupun yang hampir punah bahkan yang pernah ada tapi sekarang sudah tak dikenal lagi, sehingga nantinya dapat diwariskan kepada generasi sekarang dan bisa dicatat sebagai salah satu dari warisan budaya bangsa.
Pencatatan ini meliputi: seni musik/lagu-lagu rakyat daerah, seni tari daerah dan tradisi daerah.

Seni Musik daerah
1. Terbang Kedung.
Lirik dari Terbang Kedung merupakan syair puji-pujian terhadap kebesaran, instrumennya terdiri dari tujuh buah terbang dan setiap terbang bervariasi nada dan tabuhannya (notasinya). Disamping mengiringi kidungan juga mengiringi gerakan silat hingga tampak rancak iramanya untuk mengiringi 50 pesilat. Kesenian ini dilakukan pada hari-hari besar Islam dan untuk memperingati wafatnya Sunan Giri. Keberadaan kesenian ini didesa Ngargasari Kecamatan Kebomas.

2. Yalil-Yalil
Kesenian Yalil-yalil ini hampir sama dengan Samroh biasanya untuk hajat perkawinan, peringatan Maulid Nabi atau Khol Sunan Giri. Penabuh rebana adalah laki-laki sedang pelantun tembangnya bisa lelaki bisa juga perempuan, tergantung permintaan yang punya hajad. Tembang atau syairnya jelas bernafaskan Islam. Jumlah penabuhnya tidak lebih dari 10 orang. Alat-alat yang dipakai hanya terbang dan tidak ada tambahan alat seperti kesenian Qosidah.

3. Bedug Teter
Di Mesjid, di Surau bedug difungsikan sebagai alat untuk mengumpulkan jama’ah, ditabuh setiap menjelang waktu sholat, lima waktu. Dalam perkembangannya bedug menjadi alat untuk mengiringi salawatan dan kadang-kadang membantu permainan hadrah sebagai suara Bassnya. Untuk menandai datangnya bulan Ramadhan dan Idhul Fitri irama pukulannya tidak sama irama sehari-hari. Dan irama inilah yang dikenal dengan Bedug Teter.Sejak zaman dahulu juga berfungsi menandai saat-saat penting dalam kehidupan masyarakat.

4. Terbang Jidor
Terbang Jidor adalah suatu bentuk penyajian musik rakyat yang bernafaskan agama Islam. Musik ini dalam penyajiannya berwujud vocal-instrumental. Tempat pengembangannya didaerah Giri, kecamatan Kebomas. Lagu vokalnya adalah merupakan pengungkapan dari Kitab Berjanji. Instrumen pengiringnya terdiri dari alat-alat pukul antara lain :
– Terbang sejumlah 6 atau lebih, terdiri dari jenis terbang truntung dan terbang yang sepanjang lingkarannya diberi semacam alat berbentuk bundaran logam kecil-kecil yang dapat menimbulkan bunyi cer-cer
– 1 buah kendang
– 1 buah jidor
Pembawa lagu adalah sekaligus merangkap sebagai pemain instrument. Alat-alat ini, selain jidornya semuanya ditabuh dengan tangan.
Selama proses permainan, peranan lagu dipegang seorang tokoh pemain yang disebut penjawat. Fungsi penjawatini, selain sebagai pembuka lagu (yang mengawali lagu) juga mempunyai peranan dalam memimpin pembawaan lagunya dari awal sampai selesai
Terbang jidor selain diadakan di suarau-surau, mesjid-mesjid yang erat hubungannya dengan kegiatan agama, juga digunakan pada kesempatan orang mempunyai hajat (perkawinan, khitanan, dan lain sebagainya).
Timbulnya terbang Jidor ini sangat erat hubungannya dengan pengaruh dan masuknya agama Islam.

5. Kedungdangan
Kedungdangan ini boleh dikatakan hadrahnya orang Gresik, instrumentnya sama dengan hadrah hanya ada tambahan bedug kecil. Kedungdangan berawal dari kata dung dang yang dberi awalan ke dan akhiran an, yang artinya bermain dengan tabuhan dung dan dang. Permainan Kedungdangan ini pada bulan puasa dimulai dari malem selikur (malam ke 21) setiap hari dan diakhiri menjelang Hari Raya, waktunya setelah asyar sampai mendekati maghrib mengelilingi kota Gresik.. Tujuannya mengingatkan pada umat Islam bahwa menjalani puasa sudah tinggal 10 hari lagi dan lebih prihatin karena biasanya godaan semakin banyak.

6. Kemanten Sunat
Di Kelurahan Lumpur , pesisir pantai utara, Kecamatan Gresik dimana mata pencaharian penduduknya sebagai nelayan, mencari ikan dilaut mereka mempunyai tradisi Kemanten Sunat ialah sosok anak lelaki yang memasuki usia dewasa melalui upacara pendewasaan berdasarkan tradisi khitan atau lebih dikenal dengan sunat.
Tradisi sunatan yang dilaksanakan secara turun temurun dengan bernafaskan Islam, seni sastra lisan tembang atau macapatan masih dijumpai di kelurahan Lumpur. Anak yang akan di sunat diarak keliling desa. Anak tersebut ditandu, seringkali tandu itu berupa hiasan atau berbentuk kuda-kudaan atau gajah-gajahan. Prosesi ini diiringi music terbang, grup pencak silat, ketopang dan iringan kelompok anak-anak seusia anak yang di sunat sambil membawa bendera ,sapu tangan dan sendok.Prosesi ini di laksanakan sehari sebelum upacara sunatan ,waktunya setelah sholat ashar sampai menjelang mahgrib.
Perlengkapan yang unik berupa ketopang atau kembang manggar,bahannya berasal dari buah kates yang ditancapi sapu lidi,lidi dihiasi dengan kertas berwarna-warni.Ketopang dilengkapi dengan pontang lima, bahanya daun pisang dihiasi janur diberi isi ketan tersusun dalam lima macam .Maknanya suatu harapan agar anak yang disunat mampu melaksanakan lima macam rukun Islam sampai akhir hayatnya .
Pada malam hari diselenggarakan kegiatan moco patan, membaca tembang atau kidung berisi cerita sejarah pengembangan agama Islam di Jawa. Kidung ini diucapkan dalam bahasa Jawa, yang sering dijumpai dengan beberapa kosa kata bahasa Jawa kuna.
Puncak acara iyala sunat,memotong kulit penutup ujung kemaluan anak yang di sunat. Akhli yang menyunatkan anak disebut Calak(dukun sunat).Sesudah Calak melaksanakan sunatan ,maka biak keluarga mengadakan udik-udikan iyala menebar uang yang dicampur dengan beras dan kunyit, uang itulah yang di perebutkan oleh anak-anak kecil yang hadir pada upacara sunatan.
Penutup upacara sunatan ialah upacara selamatan atau berkatan. Maknanya pihak keluarga mengucapkan uji sukur kehadirat Tuhan atas keselamatan si anak yang di sunat.Peserta selamatan pulang kerumahnya masing-masing dengan membawa berkat.

7. Bik uwi
Lagu anak-anak ini biasanya dimainkan pada waktu sore secara bersama-sama oleh anak perempuan dan laki-laki. Tiga anak perempuan memikul bakul kecil yang berisi jajan, sedang satu anak laki-laki memikul pikulan yang berisi mainan-mainan. Sedang teman-teman lainnya membentuk lingkaran lebar, mengitari
Bik uwi,
Tumbas uwi wong Giri, Tumbas ebung wong gunung
Gunung sari lemet jagung enak legi
Bik Uwi (suaranya dikeraskan sampai memanggil penjual-penjual)
Penjual mendatangi mereka yang memanggilnya, terjadi dialog tentang apa yang djjual dan berapa harganya. Setelah mereka menikmati jajan-jajan, maka penjual menyiapkan kembali jualannya, sedang teman-teman kembali mengitari pemain sambil melantunkan kembali Bk Uwi.

8. Eh, dayohe teka
Masyarakat Gresik dikenal oleh para pendatang yang singgah di Gresik sangat ramah dan selalu menghormatinya, hingga mereka betah tinggal di kota Gresik. Rasa hormat dan keramahan terhadap tamunya (pendatang( tercermin dalam syair lagu dolanan anak yang berkembang dari zaman ke zaman dan sering dinyanyikan anak-anak maupun orang dewasa. Pengarang lagu ini tidak dikenal, begitu pula sejarahnya. Dibawah ini syair lagunya :
Syairnya Terjemahan dalam Bahasa Indonesia
Eh dayohe teka Eh tamunya datang
Beberna klasa Gelarkan tikar
Klasae bedah Tikarnya berlubang
Tambalen Juadah Tambal dengan juadah
Eh, juadahe mambu Eh, juadahnya sudah basi
Pakak-na asu Berikan pada anjing
Asune mlayu Anjingnya lari
Balangen kayu Lemparlah dengan kayu
Arti syair lagu ini, jika ada tamu datang harus dihormati dan segeralah menggelar tikar (belum ada karpet). Jangan menggelar tikar yang sudah berlubang, cari tikar yang baik, tambal tikar yang berlubang dengan juadah, artinya suguhkanlah jajan juadah atau jajan lain. Kalau makanan sudah basi, tidak pantas untuk disuguhkan, karena jajanan yang basi pantasnya untuk makanan hewan (anjing),
Biasanya lagu ini disertai mainan yang menirukan syairnya, dimulai dari rombongan tamu datang, disambut sambil menggelar tikar. Kemudian menyuguhkan jajan dan menyilahkan untuk mencicipi.

9. Gotri ala Gotri
Termasuk jenis lagu permainan anak-anak, lagu ini adalah berlaras Slendro dan bisa dibawakan pada saat terang bulan, terutama dalam permainan Slidenan atau delikan. Mula-mula mereka berlagu kemudian pada akhir lagu tersebut telsh dspst ditunjuk siapa kalah (yang menunggu tempat).
Sementara itu anak yang lain segera sembunyi, kemudian anak yang menggu tempat tersebut baru mencarinya. Demikian seterusnya.
Timbulnya lagu kemungkinan besar hanyala merupakan salh satu kegembiraan anak-anak di waktu senggang sebagai pengisi waktu.

Dibawah ini lagu dan syair tersebut.
Gotri ala gotri, nagasari ri ri
Tiwul owal awil, jenang katul tul tul
Dolan awan awan ndelok manten ten ten
Titenana mbesuk gede dadi apa pa
Podang mbako enak mbako sedang dang
Dangkrek ekrak ekrek putri kodok

10.Ontong Ontong Bolong
Termasuk jenis lagu permainan anak-anak yang dibawakan secara bersama-sama. Lagunya terdiri dari 3 bait (A, B, C), yang masing-masing bait mempunyai gerakan-gerakan khusus, sedangkan antara bait satu dengan kelanjutannya diselingi dengan ucapan tanpa lagu (bebas irama) yang mempunyai gaya khusus pula. Lagu ini adalah lagu lama, sehingga tidak dapat dimengerti artinya, dengan demikian tidak dapat disalin ke dalam bahasa Indonesia.
Bagaimana latar belakang sejarahnya serta kapan timbulnya lagu ini belum dapat diketahui.
Dibawah inilah syairnya :
A. Ontong-ontong bolong Adu merak adu sapi
Ndog pecah-a siji nek ndak pecah tak tutuk glati
Selingan Prog (dalam hal ini genggaman tangan yang bersusun paling bawah membuka (udar) dengan arah tertelungkup)
B Ri uri kacang beranti ana bebek pinggir kali
Nucuk-i pari sak wuli
Selingan ucapan Cetit Lombok abang dengan gerakan menyilangkan tangan di dada.
C Dog belodog Ana santri menek endog
Ketiban punuk-e anjlog
Selingan tanpa lagu, bebas irama : “Cokot apa yu?”
Hanya seorang bertanya : “Cokot ula sawa”
Dan seorang lagi menjawab : “Tambani apa yu?”
Kemudian bersama-sama : “Oooo,haaaa,Oooo,Heeee”

11. Slebur
Termasuk lagu anak-anak yang ada sejak dahulu. Slebur ini berlaras Slendro, dan biasa dibawakan pada waktu sore atau malam hari terutama di saat bulan purnama.
Lagu ini biasa dibawakan swecara bersama-sama terutama oleh anak-anak perempuan sambil duduk-duduk mereka berhadap-hadapan dengan berpegangan tangan. Sambil berlagu mereka ganti mendorong sesuai dengan irama lagunya, demikian seterusnya.
Kapan timbulnya lagu ini belum dapat diketahui, demikian juga latar belakang sejarahnya. Apa yang dimaksudkan dalam kalimatnya, sukar dimengerti, sehingga sulit untuk disalin kedalam bahasa Indonesia.
Dibawah ini syairnya :
Slebur slebur putri mandi mangan bubur
kepanasen nyembar nyembur
Slebur-slebur montra mantra mangan bubur
Kepanasan kecegur sumur

12. Desekan Kantoran
Suatu permainan yang sudah lama yang tujuan dari si pengarang lagu ini, untuk mendidik anak-anak agar mereka mempunyai jiwa kebersamaan. Lagu ini dibawakan oleh rombongan anak laki-laki dan rombongan anak-anak perempuan. Ketika rombongan anak laki-membawakan lagu ini sambil berdiri, rombongan anak-anak perempuan duduk behimpit-himpitan, sambil menyesuaikan lirik lagunya, berdesakan kekanan dan kekiri. Pada saat lirik lagu tak diluk-dilukno mereka secara bersama-sama ndiluk semua, begitu pula saat tak dangak-dangak-no mereka secara serentak ndangak dan juga waktu tak iring-no. Selesai lagu ini, gantian anak laki-yang duduk dan anak-anak perempuan yang menyanyi sambil berdiri.
Dibawah ini lirik lagu Desekan Kantoran
Desekan kantoran trejang-trejing
Man Jono mikul kendi
Kendine sak beledong
Tak diluk-diluk-no
Tak dangak-dangak-no
Tak iring iring-no

13. Barisan terikan tempe
Timbulnya lagu ini pada sekitar tahun1948-an saat adanya agresi Belanda, lagu ini kata-katanya mengandung kata sandi, untuk memberi tahu bahwa tentara Belanda sudah kelihatan di kejauhan. Baris pertama dan kedua menyatakan bahwa sudah melihat patroli (barisan),baris ketiga dan keempat mempertegas merka adalah tentara Belanda. Kata nyonya dan sabun wangi adalah kata sandi untuk orang Belanda. Baris kelima dan keenam hanya untuk tambahan lagu, memberikan kesan lagu ini bukan sandi. Yang diminta untuk membawakan lagu ini dan sambil bermain baris-barisan adalah anak-anak, sehingga tidak dicurigai oleh tentara musuh. Sejak kecil anak-anak sudah dikenalkan bela Negara.
Siapa pencipta lagu ini tidak diketahui. Dan inilah syairnya :
Baris terikan tempe
lidong udele bodong
Nyonya adus kali
kosokan sabun wangi
Emak mangan roti
anak-e dak di me-i

14. Cublek-cublek Suweng
Lagu ini lagu permainan anak-anak. Dasar lagu ini adalah laras slendro dan termasuk lagu lama. Ditilik dari susunan kalimatnya sulit diketahui maksudnya, apalagi disalin dalam bahasa Indonesia.
Pada umumnya lagu ini dibawakan oleh anak-anak secara bersama, terutama pada saat terang bulan. Kapan timbulnya serta bagaimana latar belakang sejarahnya belum diketahui.
Dibawah ini syair lagu Cublek cublek suweng :
Cublek cublek suweng, suwenge ting gelenter
Mambu ketundung gudel, pak empong lera-lere
Sapa ngguyu ndelikake, sir sir pong dele bodong
Sir sir pong dele bodong

15. Lir-ilir
Salah satu diantara tembang-tembang yang diciptakan Sunan Giri adalah tembang Lir-ilir, yang isinya mengandung filsafat dan jiwa agama (Tim Penyusun Buku Sejarah Hari Jadi Kota Gresik). Maksud lagu Ilir-ilir bisa diterangkan sebagai berikut :
Sang bayi yang baru lahir di dunia ini (tanaman yang mulai menghijau) masih suci murni sehingga ibarat penganten baru, setiap orang ingin memandangnya. Bocah angon (pengembala) itu diumpamakan santri artinya orang yang menjalankan syariat agama. Sedangkan blimbing itu adalah buah-buahan yang mempunyai lima belahan, maksudnya sembayang lima waktu. Meskipun lunyu-lunyu (licin) tolong panjatkan juga, yakni kendatipun susah dan berat sembahyang itu, namun kerjakanlah buat mambasuh dodotiro-dodotiro yaitu buat membasuh hati dan jiwa kita yang kotor ini. Kumitir bedah ing pinggir dondomono, jlumatan kanggo sebo mangko sore, maksudnya bahwa orang hidup didunia ini senantiasa condong kearah berbuat dosa, segan berbuat baik dan benar serta utama, maka dengan menjalankan sholat lima waktu itu diharapkan kelak kemudian hari dapatlah buat bekal menghadap kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Bekal itu ialah amal sholeh.

Lir ilir, Lir ilir, tandure wis smilir
Tak Ijo royo, royo, tak sengguh kemanten anyar
Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu lunyu peneken kanggo mbasuh dodot ira
Dodot ira, dodot ira, kumitir bedah ing pinggir
Dondomono jumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane
Yoo surak o o o surak horeeee…….

16. Padang-padang Bulan
Padang-padang bulan
Ayo gage do – dolanan
De – dolanan neng latar
Ngalap padang gilar-gilar
Nundung begog hanga tikar

Yang artinya dalam bahasa Indonesia kira-kira
Terang-terang bulan marilah lekas bermain
Bermain di halaman mengambil manfaat dari
Terang benderangnya bulan. Mengusir gelap
Yang lari terbirit-birit
Adapun maksud tembang diatas adalah bahwa agama Islam (bulan) telah datang memberi penerangan hidup. Maka marilah segera kita menuntut pendidikan (dolanan = bermain) di bumi ini (latar = halaman). Marilah mengambil manfaat hikmah ilmu agama Islam yang cemerlang (padang gilar-gilar = terang benderang) agar segala kesesatan dan kebodohan diri (begog = gelap) segera terusir.

17. Sluku-sluku Bathok
Lagu ini biasanya dipakai untuk menidurkan bayi atau endung-endung.
Syairnya seperti dibawah ini :
Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo
Si Rama menyang Solo, oleh-olehe payung muthoh
Wak jentit lolo lobah, wong mati ora obah
Nek obah medheni bocah, nek urip nggolek-o duwit

18. Jamuran
Lagu ini termasuk jenis lagu permainan anak-anak. Lagu ini dibawakan secara bersama-sama sambil mengadakan tebakan.

Jamuran ya ge ge thok
Jamur apa, ya ge ge thok
Jamur gaji mbejijih sak ara ara
Sira mbade jamur opo

19. Di wuruk ngaji
Bagi masyarakat Gresik sudah ada kebiasaan membawa anak-anaknya untuk diajar ngaji sejak usia dini di Mesjid atau di surau-surau. Hal ini tercermin pada lagu di bawah.
Arek cilik di wuruk ngaji
Besok gede dadi wong aji
Agomo Islam agomo suci
Sing dak ngaji awake rugi
Rugi ndonya dak dadi opo
Rugi akherat mbesok di siksa

20. Duh Sangang Sasi
Lagu ini biasanya disenandungkan pada saat Bapak ingin menidurkan anaknya, untuk mengingatkan anaknya betapa sulitnya saat Ibu mau melahirkan anak. Karenanya jangan sekali-kali melawan Ibu apalagi membentaknya. Seorang ibu harus dihormati.
Duh sangang sai eson diemban
Dining sang ibu ing madaharan
Naliko iku, sang ibu nompo 
Kemelaratan kang tumpo-tumpo
Sahinggo ibu nyuwun pitulung
Marang Pangeran Kang Maha Agung
Duh Gusti Allah, Duh Gusti Allah
Duh Gusti Allah, Duh Gusti Allah
Duh Gusti Allah, mugi Jenengan
Hanggapilake ing kelahiran
Awit margine sanget nekoso
Nanging Jenengan Maka Kuasa
Gusti Allah kaula pasrah
Dateng Jenengan kang maha murah
Duh Gusti Allah, Duh Gusti Allah
Duh Gusti Allah, Duh Gusti Allah

21. Mandailing
Salah satu kesenian Tradisional yang masih eksis di Bawean tepatnya di desa Daun adalah Mandiling yaitu seni berbalas pantun yang dinyanyikan dengan iringan sebuah kelompok pemusik yang terdiri dari instrumen jidor, gong, akordion, guitar, bas dan biola. Penglantun pantun terdiri dari 1 pasangan hingga 4 pasangan yang secara bergantian melantunkan pantun sambil menari. 1 pasangan terdiri dari pemeran laki dan pemeran wanita yang dibawakan oleh orang laki-laki yang berpakaian wanita. Gerakan tarian dan pembawaan pantun dari pemeran wanita ini ditambah dengan iringan music yang dinamis dan rancak bisa menimbulkan kelucuan hingga suasana pertunjukan menjadi hidup dan mengundang penonton ikut larut dalam tarian dan berpantun di pesamoan. Pantun yang dibawakan menggunakan bahasa Bawean sedang temanya beragam dari persoalan akhlak moral hingga percintaan.
Masyarakat Bawean yang penduduknya mayoritas beragama Islam melarang wanitanya tampil menyanyi dan menari.
Biasanya pertunjukan Mandiling ini diselenggarakan dalam rangka hajatan perkawinan, khitanan maupun penyambutan tamu.

22. Kercengan
Kercengan adalah sebangsa hadrah yang khas Bawean, karena mempunyai keistemawaan alat musiknya yang tidak sama dengan yang dipakai hadrah-hadrah lainnya. Alat music yang dipergunakan terdiri dari beberapa rebana/terbang khusus yang memiliki bidang badan yang lebar terbuat dari kayu. Membran sebagai penghasil getaran suara memiliki ukuran kekecangan yang berbeda dengan terbang yang dipergunakan hadrah lainnya. Lagu-lagu yang dilantunkan awalnya diambil dari Kitab Berzanji. Namun pada perkembangan selanjutnya juga ditemukan syair-syair berbahasa Bawean ataupun Indonesia, yang temanya masih tetap seputar pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad serta ajaran syariat agama Islam. Kercengan Bawean juga dilengkapi dengan 15 – 30 penari yang diserbut ruddet. Para penari duduk bersyaf hingga 3 syaf,. Gerakan-gerakannya banyak terinspirasi dari gerakan sholat dan huruf hijaiyah lafat-lafat suci agama Islam. Konon Kercengan baik penabuh maupun penarinya hanya diperankan para pria saja. Namun saat banyak ditemui wanita sebagai vokalis dan pe-ruddet kercengan. Bahkan telah ada group Kercengan yang keseluruhan personilnya adalah wanita.

23. Dikker
Kesenian Dikker konon berasal dari kosa kata Arab yaitu dzikir yang berarti menyebut dan mengagungkan nama Allah Nabi Muhammad. Dalam wujudnya yang tradisional, kesenian Dikker merupakan bentuk kesenian yang melagukan Syair-syair Barzanji dengan irama lagu yang khas dan diiringi dengan alat music rebana berukuran besar, Ke-khasan iramanya yang mendayu-ndayu dalam tempo yang lamban, ditingkahi dengan tetabuhan rebana-rebana besar dengan nada bas, lebih menghadirkan suasana sacral. Dikker bisanya dimainkan oleh 5 – 8 orang yang semua personilnya merangkap sebagai penabuh dan vocal. SEtiap penabuh mempunyai tugas yang berlainan (notasinya tidak sama). Sehingga terbangun dinamika music khas Bawean. Pada tradisi masyarakat Bawean, kesenian Dikker hanya dapat dijumpai pada peryaan Maulid Nabi Muhammad S.A.W. Pada perayaan tersebut berlangsung dengan meriah sepanjang hari, mulai dari pagi hingga sore hari.

Seni Tari 
1. Pencak Macan
Kesenian khas Gresik Pencak Macan dari desa Lumpur identik dengan keperkasaan masyarakat pesisir Gresik sebagai budaya pesisir khas rakyat yang terbuka, egaliter dan agak keras.
Ciri khas pencak macan juga mengental dalam beragam expresi seni dan bahasa desa Lumpur yang agak berbeda dengan bahasa Gresikan. Kesenian ini merupakan perpaduan antara seni tari dan silat. Sebelum pencak macan ini dimainkan biasanya dibuka dengan permainan Hadrah dan Kedungdangan. Dimainkan oleh empat penari, tiga diantaranya bertopeng sesuai dengan peranan yang dimainkan, seperti macan, kera dan gendruwo, sedang pemain yang tak bertopeng berperan sebagai ksatria. Iringan tarinya adalah gamelan yang dipadukan dengan rebana. Instrumen gamelan terdiri dari saron, boning, kenong, kempul dan gong.Iringan inilah yang membawa penarinya masuk dalam alam peran yang dibawakan, peran macan bertingkah seperti macan, peran kera meloncat-loncat sesuai tingkah laku kera, begitu pula peran gendruwo dimainkan layaknya gendruwo yang sering menggoda si macan dan kera, sehingga keduanya melakukan pertarungan sengit. Sedangkan sang Ksatria dengan tenang dan gagahnya menghadapi serangan macan, kera dan gendruwo. Macan merupakan symbol penindasan, kera sebagai keserakahan, sedang gendruwo sebagai symbol keserakahan dan adu domba. Sedangkan ksatria sebagai symbol nafsu pembela kebenaran dan perlindungan. Energi, gerak dan bentuk topeng dalam tari pencak macan menggambarkan sifat bebas, tanpa kelas dan dinamis. Pertunjukan pencak macan dilakukan di halaman atau dimana saja tempat yang terbuka dan dipertunjukan sebagai kelengkapan acara hajad perkawinan, khitanan atau keramaian di desa.

2. Tayung Raci
Suatu tarian berasal dari desa Raci Kulon Kecamatan Sidayu yang menggambarkan keperkasaan seorang Adipati yang memimpin prajurit dalam menghadapi Belanda. Tarian ini terdiri dari tujuh penari sebagai prajurit dan seorang lagi yang menunggang Kuda putih memerankan Sang Adipati yang gagah perkasa.
Tarian ini diawali ketujuh prajurit sedang mengadakan latihan menggunakan tombak dengan rancak dan dinamis. Begitu selesai sang Adipati masuk dan menunjukkan kepiwaiannya menggunakan cambuk dengan gerakan yang cepat untuk menangkis peluru musuh. Begitu selesai latihan sang adipati yang menunnggang kuda putihnya memberikan tanda kepada prajuritnya untuk berangkat menghadang pasukan musuh yang sudah siap menembakan pelurunya, semua peluru yang ditembakkan musuh ditangkis dengan pecut dan ekor kuda yang ikut membantu dengan mengibaskan ekornya. Tak satupun peluru yang ditembakkan yang mengenai prajurit, dan dengan gagah beraninya prajurit menyerang musuhnya yang sudah kehabisan peluru.

3. Okol
Suatu seni pertunjukan yang mengutamakan adu kekuatan otot antara dua pemain laki-laki. Beberapa pasangan laki-laki yang kuat kekar diadu satu lawan satu. Masing-masing memegangi pinggang lawannya dengan kedua belah tangannya, selanjutnya saling berusaha menjatuhkan lawan.
Pertunjukannya diselenggarakan di tanah lapang pada siang sampai sore hari. Beberapa desa mengirimkan jagonya masing-masing untuk saling dipertemukan dalam arena. Pakaian para pemain adalah pakaian mereka sehari-hari, ialah tanpa baju, bercelana kombor hitam dan sabuk kulit melilit pinggang. Kadang-kadang mengenakan ikat kepala kain batik.
Untuk memberi suasana meriah maka ditingkah dengan instrumen gamelan sederhana sebagaimana umumnya terdapat pada pertunjukan pencak macan yaitu : kempul, gong, kendang, kethuk kenong dan slompret.

Tradisi Gresik 

1. Tradisi Kolak Ayam 
Setiap tanggal 23 Rhamadhan (bulan puasa) di desa Gumeno ,Kecamatan Manyar masyarakat desa tersebut memiliki tradisi memsak kolak ayam dan orang Gumeno menyebut kolek ayam atau sangring.Memasak kolak ayam merupakan bagian tradisi yang turun temurun sejak tahun 1451 M berketepatan dengan berdirinya Masjid yang dibangun oleh Sunan Dalem dan yang di namai dengan Masjid Jamik Sunan Dalem.Berdirinya Masjid Jamik inilah yang menandai awal tradisi kolek ayam oleh Sunan Dalem.
Penduduk yang mempunyai ayam jago diminta untuk dikumpulkan di halaman Masjid untuk di sembelih. Yang mempersiapkan bumbu-bumbunya semua orang laki-laki warga Gumeno.Bumbu-bumbu racikan ini antara lain daun berambang yang di iris kecil-kecil,gula Jawa,jinten,dan kelapa untuk diambil santennya.Resep masakan ini di kenal dengan nama Sangring.
Ayam semuanya di potong di bubuti bulunya, di beteti jerohannya kemudian di rebus.setelah cukup masak ayam di suwir-suwir untuk diambil dagingnya saja. Setelah semua daging siap dan bumbu-bumbu selesai di racik,acara mamasak kolak ayam dimulai. Untuk memasaknya di pakai kuali dari tanah liat yang di pergunakan untuk merebus kolak ayam dengan kayu sebagai bahan bakarnya. Karena jumlah ayam yang disembelih cukup banyak maka di persiapkanlah tungku masakan ,sehingga kesannya ramai-ramai bikin masakan .
Kolak ayam disuguhkan saat berbuka puasa secara bersama-sama.

2. Mocopat
Adalah suatu tradisi membaca Karya sastra kuno yang ada hubungannya dengan agam Islam dengan berlagu yang biasa dilakukan rakyat yang berkembang didesa Lumpur, tanpa diiringi gamelan atau alat-alat lain. Disamping membawakan mocopat diapun menjelaskan isi dan maksud apa yang terkandung dalam bacaan tersebut.
Adapun bahan yang dibaca dengan berlagu ini adalah naskah-naskah kuno antara lain Sindujoyo yang dibaca secara bersambung karena tidak cukup semalam dan besok malamnya disambung lagi.
Naskah yang dibaca adalah berhuruf Arab Pegon, dengan bahasa Jawa Kawi dalam bentuk tembang tapi dibawakan secara Gaya Gresikan (ada Macapat bergaya Jawa Tengahan. Adat Mocopatan ini biasanya dilakukan orang pada kesempatan acara Khol, mempunyai Hajat, misalnya : menentu, khitanan dan sebagainya. Khususnya pada orang yang mempunyai hajat perkawinan, Mocopatan ini dilakukan semalam menjelang peresmian penganten (midodaren). Adapun maksudnya yaitu merupakan upaya agar dapat berjaga semalam suntuk.

3. Tradisi Pasar Bandeng 
Tradisi Pasar Bandeng (prepekan cilik dan prepekan gede) Yang diadakan dua hari sebelum Hari Raya Lebaran seharusnya menjadi ajang pengenalan hasil produksi masyarakat Gresik dan untuk menegaskan kembali mhubungan erat antara tradisi agama dan ekonomi. Selama dua hari itu penduduk Gresik yang mempunyai tambak bandeng berlombz-lomba menjual hasil panen Bandengnya ke Pasar Bandeng ini. Tradisi Pasar Bandeng merupakan persiapan masyarakat dalam menghadapi Hari Raya Lebaran. Disana tidak hanya menjual ikan bandeng, semua produk yang dihasilkan masyarakat Gresik di pamerkan dan dijual, seperti pakaian anak, kopiah, terompah, sandal, sepatu, ketimang, masakan dan jajanan khas Gresik serta berbagai keperluan lain untuk meryakan Iedul Fitri. Boleh dikatakan tradisi Pasar Bandeng ini merupakan pameran Hasil produksi Gresik (Bresik expo). Saling bertukar baran jualan antay pedagang seperti kopiah,sarung, sandal, tang akan digunakan untuk nganyari di area expo apabila hamper usai itulah tradisi masyarakat Gresik dulu.Yang penting Hari Raya bisa memakai barang baru.Bagi masyarakat Gresik aktivitas ini justru tumbuh saling mendukung sebagaimana Sunan Giri dan Nyi Ageng Pinatih mencontohkan perannya sebagai tokoh agama sekaligus sosok pedagang besar. Sebelum acara pasar bandeng biasanya selalu di awali dengan acara MALEM SELAWE (Malam ke 25 bulan Ramadhan) yang dilaksanakan di Situs makam Sunan Giri

4. Rebo Kasan
Rebo Kasan atau juga disebut Rebo Pungkasan atau ada yang menyebut dengan Rebo Wekasan sudah dikenal masyarakat Gresik dan sekitarnya sejak abad ke XIV ketika diketemukan sumber air oleh kerabat Kanjeng Sunan Giri, tepat pada Hari Rabo terakhir (pungkasan) bulan Shofar. Sejak itu Ritual Rebo Kasan dilakukan setiap tahun dengan melakukan tasyakuran, mandi malam tepat pukul 24.00 dan dilanjutkan dengan shalat malam sekaligus sujud syukur sebagai ucapan terima-kasih kepada Allah SWT dengan memohon agar diberikan keselamatan serta dijauhkan dari segala macam penyakit.
Pelaksanaan Ritual dipusatkan Desa Suci Kecamatan Manyar sekitar tujuh kilometer dari pusat Kota Gresik.

.

Seni Lukis Damar Kurung
Seni lukis Damar Kurung dengan pelukisnya Masmundari yang merupakan ikon seni rakyat, menambah kekayaan budaya Indonesia terutama budaya Gresik. Masmundari yang lahir di desa Lumpur Kecamatan Gresik bukanlah satu-satunya pembuat Damar Kurung, ada tiga orang lagi yang menjadi warga dan tinggal di desa tersebut namun ketiganya belum sempat menikmati kejayaan damar kurung sudah wafat. Dulu untu mendapatkan damar kurung harus menanti pada bulan puasa saat itu Masmundari hanya membuat damar kurung menjelang hari Raya Islam, karena isi cerita pada lukisan damar kurung banyak berhubungan dengan kegiatan Islam misalnya kegiatan shalat tarawich, menabuh bedug, kupatan dan lain-lainnya.
Banyak karya Masmundari sudah tersebar sampai ke Mancanegara di antaranya di Belanda, Jerman, Jepang. Masmundari tidak hanya menggambar pada keempat sisi kertas dalam damar kurung tetapi juga memindahkan gambarnya ke lembaran kertas lepasan dan kanvas sebagai suatu karya yang mempunyai aliran tersendiri dan dikenal dengan aliran naïf.

Diantara seni-seni musik,seni tari dan tradisi ada yang mulai hilang, hal ini di sebabkan karena :
1. kurangnya orang-orang tua yang tidak melatih,mengajar,memberikan petunjuk seni musik,seni tari,maupun tradisi kepada generasi di bawahnya sehingga seni-seni tradisional tersebut tidak di kenal lagi oleh generasi sekarang. Anak-anak sekarang sudah banyak tidak mengenal seni-seni hasil karya leluhurnya.
2. Adanya seni-seni dari luar yang mempengaruhi generasi sekarang,mereka lebih mengenal seni musik dari mancanegara di banding dengan seni tradisional
3. Media baik elektronik maupun media cetak yang gencar menayangkan dan menulis kese nian dari luar sangat membantu masuknya kesenian dari luar.
4. Pemerintah baik pusat maupun daerah belum banyak memberikan dukungan dalam pengembangan pelestarian budaya tradisional (daerah) perlu adanya gerakan mencintai budaya nasional /daerah (lewat sekolah-sekolah mulai dari TK sampai S dan MA).
5. Perlu dibentuk Team Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah.

OEMAR ZAINUDDIN
Lahir di Gresik, 18 Desember 1940 dan dibesarkan dikota tersebut. Sebelum menjadi anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Gresik seperti saat ini, pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah, Pensiunan pegawai Bulog dan Guru SMAN 1 Gresik. Bersama teman-teman mendirikan Mataseger, Masyarakat Pencinta Sejarah Dan Budaya Gresik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>