Cara Mengatasi Kecenderungan Bermaksiat

Saya seorang pria yang punya masa lalu tidak baik. Selama bertahun-tahun
sudah meninggalkan masa lalu tersebut. Saat ini muncul kembali keinginan/
kecenderungan bermaksiat seperti masa lalu. Apa yang harus saya lakukan?
Apa orang-orang sholeh dari generasi salaf juga pernah ada yang mengalami
hal seperti itu.

(Abu Sativa-Madiun)

Jawaban

Yang semestinya harus anda lakukan sekarang adalah mencontoh generasi salaf ( para pendahulu kitayang shalih ), yaitu ketika berbuat kemaksiatan, segera bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat, dengan segera meninggalkan kemaksiatannya, menyesali atas kemaksiatan yang telah dilakukan, berjanji untuk tidak akan lagi mengulang kemaksiatannya dan memperbanyak istighfar dan amal shalih. Berikut adalah nasihat dari seorang yang shalih ” Ibrohim bin Ad-ham ” kepada seseorang yang berkeinginan meninggalkan kemaksiatan, Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari nasihat tersebut :

Suatu ketika seorang laki-laki mendatangi Ibrohim bin Ad-ham… ia mengatakan: “Wahai Abu Ishaq (panggilan kesayangan Ibrohim)! Sungguh, aku ini orang yang terlalu menuruti hawa nafsuku, maka  mohon berikan aku nasihat yang dapat mencegah dan menyelamatkan hatiku!
Maka Ibrohim mengatakan: “Jika kamu setuju dan mampu melaksanakan lima perkara ini, maka kemaksiatan tidak lagi membahayakanmu, dan kenikmatan tidak lagi menjerumuskanmu”.
Laki-laki itu mengatakan: “Wahai Abu Ishaq, Sebutkanlah lima perkara itu!”
Ibrohim mengatakan: “Yang pertama: Jika kamu ingin melakukan maksiat kepada Allah azza wajall, maka janganlah makan dari rizki-Nya!”
Maka laki-laki itu mengatakan: “Lantas dari mana aku akan makan, sedang semua yang ada di bumi ini termasuk rizki-Nya?!”
Ibrohim berkata : “Jika demikian, Apakah pantas kamu makan dari rizki-Nya, lalu kamu melakukan maksiat pada-Nya?!”
Laki-laki itu mengatakan: “Tentu tidak… Sebutkanlah yang kedua!”
Ibrohim mengatakan: “Jika kamu ingin bermaksiat pada-Nya, maka janganlah kamu menempati negeri milik-Nya!”
Maka laki-laki itu mengatakan: “Ini  lebih berat dari yang pertama… Karena semua negeri dari timur sampai barat itu milik-Nya, lantas dimana aku akan bertempat?!”
Ibrohim berkata : “Jika demikian, Apakah pantas kamu makan dari rizki-Nya dan menempati negeri milik-Nya, lalu kamu melakukan maksiat pada-Nya ?!”
Laki-laki itu mengatakan: “Tentunya tidak… Sebutkanlah yang ketiga!”
Ibrohim mengatakan: “Jika kamu ingin bermaksiat pada-Nya, sedang kamu mendapat rizki dari-Nya dan menempati negeri milik-Nya, maka carilah tempat yang tidak bisa terlihat oleh-Nya, lalu lakukanlah maksiat di tempat itu!”
Maka laki-laki itu mengatakan: “Wahai Ibrohim, bagaimana ini mungkin, sedang Dia bisa melihat apapun yang tersembunyi?!”
Ibrohim berkata : “Jika demikian, apakah pantas kamu makan dari rizki-Nya, dan menempati negeri milik-Nya, kemudian kamu melakukan maksiat kepada-Nya padahal Dia melihatmu dan semua gerak-gerikmu?!”.
Laki-laki itu menjawab: “Tentunya tidak… Sebutkanlah yang keempat!”
Ibrohim mengatakan: “Jika nanti datang Malaikat Kematian untuk mencabut nyawamu, maka katakan padanya: ‘Tanggguhkanlah kematianku, sehingga aku bisa ber- taubat nasuha dan melakukan amalan-amalan yang baik’!”
Maka laki-laki itu mengatakan: “Ia takkan menuruti permintaanku”
Ibrohim berkata : “Jika kamu tidak mampu menolak kematian untuk bertaubat, dan kamu tahu bahwa jika datang kematian maka tidak mungkin lagi ditangguhkan, lantas bagaimana kamu akan menyelamatkan diri?!”
Lelaki itu mengatakan: “Sebutkanlah yang kelima!”
Ibrohim mengatakan: “Jika Malaikat Zabaniyah nanti datang untuk menggiringmu ke Neraka, maka jangan mau pergi bersamanya!”
Laki-laki itu mengatakan: “Mereka tidak akan membiarkan dan mendengarkan ucapanku”
Ibrohim berkata : “Lantas bagaimana kamu mengharapkan keselamatan?!”
Maka lelaki itu mengatakan: “Wahai Ibrohim, cukup… cukup… Aku sekarang mohon ampun dan bertaubat kepada-Nya”
Akhirnya lelaki itu selalu menemani Ibrohim dalam ibadah, hingga kematian memisahkan keduanya…
(Diterjemahkan dari buku “ Samirul mukminin fil mawa’idz wal hikam wal qoshos “ karya :Muhammad Al Hajjaar  hal.: 281-281 )
Demikian,wallahu a’lam bishshawab

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>